Kamis, 23 Agustus 2018

Cara Mencegah Radikalisme dan Sikap Intoleransi di Lingkungan Sekolah

Yoadit.comCara mencegah radikalisme harus dilakukan mulai dari lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat.

Cara Mencegah Radikalisme dan Sikap Intolerasi di Lingkungan Sekolah
Peristiwa memilukan kembali terjadi beberapa waktu lalu. Dimana terjadi peristiwa teror bom yang berlokasi di kota Surabaya.

Dalam kajian terorisme, bom Surabaya memunculkan fenomena baru di mana aksi terorisme melibatkan satu keluarga termasuk anak-anak usia sekolah dalam anggota keluarga tersebut.

Baca juga:
Konsepsi Pencegahan dan Penanggulangan Terorisme di Indonesia

Temuan mengerikan ini menjadi bukti bahwa bibit-bibit radikalisme sudah mulai masuk dan berkembang di lingkungan anak usia sekolah.

Dari hasil penelitian PPIM UIN Jakarta di tahun 2017 yang dilakukan terhadap siswa/mahasiswa dan guru/dosen dari 34 provinsi di Indonesia, ditemukan dari responden sebanyak 34,3 persen opini intoleransi kepada kelompok agama lain.

Selanjutnya, sekitar 48,95 persen responden siswa dan mahasiswa merasa ada pengaruh dari pendidikan agama untuk tidak bergaul dengan pemeluk agama lain.

Lebih mengejutkan lagi, ditemukan pandangan keagamaan dengan opini yang radikal pada 58,5 persen responden siswa maupun mahasiswa.

Dari hasil penelitian tersebut, ada dua permasalahan penting yang harus menjadi perhatian kita bersama, antara lain:
  1. Mengapa dan bagaimana bibit-bibit radikalisme dapat masuk ke lingkungan sekolah?
  2. Bagaimana upaya sekolah dalam mencegah pemahaman radikalisme agar tidak mempengaruhi cara berpikir di kalangan guru dan siswa?

Telah banyak kajian yang dilakukan oleh berbagai lembaga untuk menangani masalah intoleransi, anti ke-bhineka-an dan bibit-bibit radikalisme yang mulai masuk ke lingkungan pendidikan.

Hasil riset Ma’arif Institute di tahun 2017 menunjukkan bahwa semua kajian lembaga tersebut cenderung sepakat bahwa radikalisme di lingkungan sekolah masuk melalui:
  • Aktivitas pembelajaran di kelas oleh guru.
  • Adanya buku pelajaran yang diduga memuat konten intoleransi.
  • Pengaruh dan intervensi alumni maupun senior dalam kegiatan kesiswaan di sekolah.
  • Lemahnya kepala sekolah/yayasan dalam mengambil kebijakan untuk mencegah masuknya pengaruh radikalisme.

Sebagaimana terkandung dalam Pembukaan UUD 1945, dalam rangka “mencerdaskan kehidupan bangsa”, guru menjadi ujung tombak pendidikan nasional yang memiliki peran strategis.

Artinya, para guru dalam mata pelajaran apapun dan jenjang sekolah maupun tempat mengajar manapun, harusnya memahami peran mereka sebagai insan pedagogis yang tengah melakukan aktivitas kebangsaan, dan berlomba untuk mencapai tujuan bernegara.

Jadi, guru bukan semata hanya peran profesi untuk instansi tempat dia bekerja, tapi juga memiliki tanggung jawab untuk pencapaian tujuan bernegara.

Kurangnya Ruang Aktualisasi Diri Kepada Siswa di Sekolah


Nilai intoleransi kemudian muncul pula pada pola pembelajaran siswa di kelas. Ketika sekolah/guru tidak mampu mendesain cara pembelajaran yang menggugah nalar siswa yang mengacu pada pembelajaran kritis (critical thinking & critical pedagogy), dan problem based learning.

Pembelajaran di negara kita memang belum terbiasa dengan pergulatan ide dan adu argumentasi yang baik. Padahal, semua itu menjadi cerminan keterampilan berpikir kritis pada peserta didik. Keterampilan ini dikenal dengan Higher Order Thinking Skill (HOTS).

Pembelajaran kita masih terbiasa dengan ceramah yang dilakukan satu arah oleh guru. Pembelajaran dengan “student centered learning” belum terpakai secara optimal karena masih memberikan ruang dan kesempatan yang luas bagi guru untuk bermonolog.

Selain itu, para siswa juga dibiasakan menjawab soal-soal pilihan ganda yang menjadikan keterampilan berpikir masih tingkat rendah (lower order thinking skill), yaitu mengingat, menghafal dan memahami.

Sebatas pada jenjang memahami sebuah teks atau peristiwa, belum beranjak naik untuk menganalisis, membandingkan, mengkomunikasikan, mengkritisi, problem solving dan berkreasi (HOTS) yang menjadi indikasi dari keterampilan berpikir tingkat tinggi.

Akibatnya, di hadapan guru siswa menjadi inferior, takut bicara dan ragu untuk menyampaikan pendapatnya secara terbuka di kelas. Bahkan, ketika ada siswa yang kritis malah akan dianggap kurang sopan.

Siswa kurang memiliki ruang aktualisasi diri di sekolah. Pola-pola semacam itulah yang masih banyak terjadi di dunia pendidikan kita.

Strategi Mencegah Radikalisme dan Sikap Intoleransi di Sekolah


Dengan fakta yang demikian itu, bagaimana cara kita agar sekolah, guru, dan pola pembelajaran di kelas tidak lagi memberi ruang bagi penyemaian virus radikalisme dan intoleransi?

Kami mengutip tulisan dari Satriwan Salim, Pengajar di Labschool Jakarta-UNJ dan Wasekjen Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI) yang mengatakan setidaknya ada 4 strategi mencegah radikalisme dan sikap intoleransi di sekolah, antara lain:

1. Sekolah Harus Memiliki Misi dan Wawasan Kebangsaan yang Baik


Guru harus mentransformasikan dirinya menjadi pendidik yang benar-benar mendidik. Peran guru tak lepas dari misi kebangsaan, yakni mencerdaskan kehidupan bangsa.

Oleh karena itu, semua guru mata pelajaran pada jenjang pendidikan apapun harus memiliki wawasan kebangsaan yang baik.

Siswa menjadikan guru sebagai teladan dan role model bagi dirinya. Nilai-nilai kebangsaan akan sulit untuk melekat dalam jiwa siswa, jika role model-nya saja malah memperlihatkan hal sebaliknya.

2. Adanya Penyegaran dalam Keterampilan Mengajar Guru di Sekolah


Keterampilan mengajar para guru perlu dilakukan penyegaran. Pemerintah memiliki kewajiban untuk memenuhi tuntutan ini. Guru mempunyai tantangan untuk menciptakan praktik pembelajaran yang menarik, kreatif, berpikir kritis dan berpusat pada siswa.

Praktik pembelajaran yang memberi ruang superioritas bagi guru harus mulai ditinggalkan. Mendidik bukanlah proses doktrinasi, tapi proses pembangunan karakter melalui argumen dan dialog, bukan melalui monolog.

3. Pengawasan yang Tegas oleh Kepala Sekolah Terhadap Kegiatan Pembelajaran


Jika kita melihat proses masuknya bibit radikalisme di lingkungan sekolah, Kepala Sekolah atau Ketua Yayasan memiliki peran penting dalam mencegah radikalisme dan sikap intoleran.

Terutama dalam membina guru yang melakukan cara pembelajaran intoleran bahkan cenderung radikal. Kepala Sekolah harus mampu memetakan pemahaman “ideologis” para guru yang mengajar di sekolahnya.

Apalagi pada seleksi penerimaan guru seperti di sekolah swasta. Dalam tahap rekrutmen jangan hanya mensyaratkan 4 kompetensi guru namun juga harus ada syarat kemampuan dalam wawasan kebangsaan bagi calon guru.

Kepala sekolah juga harus melakukan pemantauan terhadap konten pembelajaran yang dilakukan guru di kelas. Siswa juga harus didorong untuk berani melaporkan kepada wali kelas atau kepala sekolah apabila ada guru yang mengajarkan intoleransi dan radikalisme di kelas.

Tentunya siswa juga harus dididik agar jangan sungkan dan takut dalam menyampaikan dengan adab yang baik ketika ada guru melakukan pembelajaran paham radikalisme maupun sikap intoleransi di kelas.

Selain itu, harus ada triangulasi informasi yang baik antara kepala sekolah, wali kelas, dan siswa (orangtua) yang dilakukan secara berkesinambungan.

Kegiatan kesiswaan juga harus diawasi dengan ketat dan tegas oleh kepala sekolah. Keterlibatan alumni maupun senior tidak menjadi masalah, tapi harus sudah diketahui profil dan pemahaman ideologis dari semua orang yang terlibat dalam kegiatan kesiswaan tersebut.

Berikan siswa ruang aktivitas dan kreativitas yang terbuka, tetapi tetap terkendali oleh sekolah agar tidak ada doktrin radikalisme yang terinfiltrasi masuk melalui pihak luar.

4. Pembekalan Model Pembelajaran tentang Pencegahan Radikalisme


Cara mencegah radikalisme di lingkungan sekolah yang terakhir juga tidak kalah penting. Para guru untuk semua mata pelajaran dan jenjang harus dibekali dengan “Model pembelajaran” bermuatan pencegahan radikalisme, intoleransi dan terorisme.

Termasuk pelatihan berkualitas yang berjenjang dan berkelanjutan tentang wawasan kebangsaan harus dibekali untuk para guru.

Baca juga: 
Peran Masyarakat dan Lingkungan Sosial dalam Pencegahan Terorisme

***
Demikian informasi cara mencegah radikalisme dan sikap intoleransi di lingkungan sekolah. Semoga bisa menjadi perhatian kita bersama karena mencegah radikalisme di sekolah bukan hanya tugas kepala sekolah, guru PPKn dan Pendidikan Agama, tapi juga menjadi tugas pokok semua guru dan orangtua siswa.

sumber:
https://www.republika.co.id/berita/kolom/wacana/18/06/01/p9nc8j396-strategi-mencegah-radikalisme-di-sekolah


EmoticonEmoticon