Stop Kaitkan Bencana dengan Azab Tuhan!

Artikel ini dipublikasikan terkait banyaknya oknum yang mengaitkan bencana yang terjadi di Indonesia beberapa waktu belakangan ini sebagai hukuman Tuhan atas dosa manusia.

Stop Kaitkan Bencana dengan Azab Tuhan!
sumber: tribunnews.com
Seperti kita ketahui, guncangan gempa bumi dan hempasan tsunami baru saja melanda Sulawesi.

Kesedihan kembali merundung negeri ini, kita seolah turut merasakan betapa mendalamnya duka yang mereka alami.

Baca juga:
3 Jenis Kepribadian Manusia Beserta Ciri-cirinya: Introvert, Extrovert, dan Ambievert

Di tengah penderitaan dan kondisi sulit yang dialami para korban, ada saja orang yang menghubungkannya dengan dosa manusia dan hukuman Tuhan.

Seolah-olah menvonis mereka yang terkena bencana, dalam hal ini para korban adalah orang-orang berdosa yang memang pantas menerima bencana sebagai hukuman Tuhan.

Hati-hati! Karena ini bisa saja pola pikir lama yang dicampur dengan politik kebencian.

Padahal, sudah sejak lama manusia menghadapi banyak bencana alam.

Bahkan jauh sebelum kehadiran manusia di muka bumi, banjir, letusan gunung berapi, gempa bumi, tsunami, hingga tanah longsor sudah sering terjadi.

Lantas, apa yang sebenarnya terjadi?

Bumi yang kita diami terbentuk dari materi panas yang membeku.

Bagian yang membeku hanya di permukaan saja, sementara di bagian dalam perut bumi terdapat materi yang sangat panas dengan suhu mencapai 1300 derajat yang disebut magma.

Suhu panas inilah yang membuat perut bumi juga bertekanan tinggi. Tekanan dari dalam perut bumi kemudian membentuk gunung-gunung.

Letusan gunung berapi akan terjadi ketika tekanan sudah semakin besar dan permukaan bumi tidak sanggup lagi untuk menahannya.

Permukaan bumi yang disebut juga dengan kerak bumi terdiri dari sejumlah potongan atau lempeng dengan ketebalan sekitar 30 km.

Lempeng-lempeng tersebut mengapung di atas magma. Karena ‘mengapung’, posisinya tidak statis, tapi dinamis.

Sesekali sesama lempeng akan saling berbenturan, atau bergesekan.

Benturan dan gesekan tadi menyebabkan sebagian dari permukaan lempeng itu terguncang. Itulah yang disebut gempa bumi.

Perbatasan antar lempeng terletak di bawah laut. Ketika lempeng bergeser atau bertumbukan, gerakan tersebut mengusik air laut.

Energi yang sangat besar dari gesekan itu mengusik air laut dalam volume jutaan bahkan miliaran ton. Sehingga terbentuklah gelombang yang disebut tsunami.

Ketika gelombang mendarat di permukaan bumi yang berpenduduk, maka menimbulkan bencana besar.

Gempa bumi, letusan gunung berapi, dan berbagai bencana lain di muka bumi sebenarnya merupakan aktivitas alam itu sendiri.

Sifatnya sama seperti turunnya hujan, mengalirnya air di sungai, tumbuhnya pepohonan, atau hewan yang beranak pinak. Hanya peristiwa alam biasa.

Kejadian-kejadian itu tidak secara khusus terkait dengan eksistensi manusia. Ada atau tidaknya manusia, hujan akan tetap turun, pohon-pohon akan tetap tumbuh, dan hewan beranak-pinak.

Ada atau tidaknya manusia, gempa bumi tetap terjadi, begitu pula dengan letusan gunung berapi.

Bahkan sebelum manusia itu ada, gempa bumi, gunung meletus, dan tsunami sudah ada dan memiliki intensitas yang jauh lebih tinggi.

Mari kita pahami lebih jauh tentang definisi BENCANA. Peristiwa alam biasa akan disebut bencana ketika menimbulkan korban jiwa manusia.

Tanpa adanya manusia di tempat itu, peristiwa alam yang maha dahsyat sekalipun tidak disebut bencana.

Dikatakan BENCANA, apabila ada korban jiwa manusia dan kerugian materi dari peristiwa alam yang terjadi.

Baca juga:
Benarkah 5 Negara Maju Ini Terancam Bangkrut karena Utang yang Menumpuk?

Oleh karena itu, mari kita berpikir lebih terbuka. Jangan menambah ‘luka’ para korban bencana dengan 'menuduh' bahwa itu terjadi karena maksiat dan dosa.

Semua bencana yang terjadi adalah Ujian, bukan semata-semata azab atas dasar hukuman Tuhan. Jangan mencampuradukkannya dengan politik kebencian.

Sumber:
Bencana itu Peristiwa Alam, Bukan Azab Tuhan
Oleh: Hasanudin Abdurakhman - detikNews

Stop Kaitkan Bencana dengan Azab Tuhan!