Senin, 05 November 2018

Peran Masyarakat dan Lingkungan Sosial dalam Pencegahan Terorisme

Yoadit.com - Peran masyarakat luas dan lingkungan sosial tidak dapat diabaikan dalam upaya pencegahan terorisme.

Peran Masyarakat dan Lingkungan Sosial dalam Pencegahan Terorisme
Masyarakat memiliki kontribusi yang sangat besar, baik dalam konteks mendeteksi keberadaan kelompok teroris, mengontrol tindak-tanduk jaringan kekerasan, hingga memutus ideologisasi radikal dan intoleransi.

Baca juga:
Cara Mencegah Radikalisme dan Sikap Intoleransi di Lingkungan Sekolah

Bahkan, dalam mengungkap jaringan terorisme, masyarakat dan lingkungan memiliki peran yang sangat signifikan. Contohnya saja dalam penangkapan jaringan teroris di sejumlah tempat, seperti jaringan Thorik di Tambora, Jakarta Barat.

Kewaspadaan masyarakat dan lingkungan sosial telah berperan aktif dalam mengungkap kelompok Thorik. Atas peran tersebut, masyarakat patut mendapat apresiasi setinggi-tingginya dari pemerintah dan pihak keamanan.

Upaya pencegahan dan pendeteksian dini terhadap potensi terorisme, masyarakat dan lingkungan sosial juga dapat berperan secara aktif sebagai tindakan preventif dalam memutus rantai terorisme hingga ke akarnya.

Lingkungan sosial yang bersifat acuh tak acuh terhadap kegiatan masyarakat dapat dimanfaatkan oleh jaringan teroris untuk menyemai dan menumbuh-suburkan gerakan maupun paham ideologisnya.

Dari berbagai kasus yang ada, pola rekrutmen teroris selama ini masih mengandalkan pola yang kurang lebih sama, yaitu melalui jalur pertemanan, keluarga, dan juga pertemuan secara tertutup.

Tetapi tidak dapat dipungkiri, lingkungan sosial juga dapat memiliki peran ganda. Pasalnya, di satu sisi lingkungan dapat memberikan sumbangsih bagi proses ideologisasi dan pembentukan jaringan terorisme, khususnya lingkungan masyarakat yang cenderung tidak peduli atas apa yang terjadi di sekitarnya.

Di sisi lain, masyarakat dan lingkungan sosial juga dapat berperan dalam mencegah, menghambat, serta mengungkap persoalan terorisme di Indonesia.

Model Kehidupan Masyarakat yang Dimanfaatkan Jaringan Teroris


Setidaknya ada dua model kehidupan masyarakat yang selama ini sering dimanfaatkan oleh jaringan terorisme, yaitu masyarakat perkotaan dan masyarakat basis.

Model Kehidupan Masyarakat Perkotaan


Kesibukkan dalam pekerjaan dan rutinitas, membuat masyarakat kota memiliki kultur kehidupan yang cenderung tidak saling akrab dan kurang peduli satu sama lain. Kultur kehidupan semacam ini kerap dimanfaatkan oleh kelompok teroris untuk “bersembunyi” di tengah-tengah masyarakat.

Kelompok teroris sangat leluasa untuk menyusun dan merencanakan aksinya dalam keadaan masyarakat kota yang sangat disibukkan dengan urusan masing-masing.

Jaringan terorisme menjadikan ekspresi moral dan ritual untuk menutupi berbagai macam kejahatan yang mereka rencanakan.

Masyarakat di sekitarnya kerapkali terkecoh dengan ekspresi moral dan ritual kelompok teroris tersebut. Oleh karena itu, tidak mengherankan jika masyarakat sering kaget setelah tetangga atau orang di sekitar kompleknya dinyatakan terlibat dalam jaringan teroris oleh aparat.

Masyarakat mungkin mengenal tetangganya itu sebagai pribadi yang baik, karena tertipu dengan ekspresi moral dan ritualnya.

Dalam hal ini, ekspresi moral dan ritual merupakan tuntunan serta kewajiban secara keagamaan, tidak dapat ditegaskan bahwa seseorang yang memiliki ekspresi moral dan ritual yang baik, belum tentu tidak terkait dengan kejahatan.

Bahkan, ekspresi moral dan ritual bisa saja menjadi ‘kedok’ untuk menutupi rencana atau tindak kejahatan yang dilakukan seseorang.

Tindakan tegas yang dilakukan oleh aparat keamanan bukan karena ekspresi moral ataupun spiritual dari yang bersangkutan, melainkan semata-mata karena ada rencana-rencana yang dilakukan kelompok teroris untuk melakukan aksi kejahatan, hanya saja tidak diketahui oleh masyarakat sekitarnya.

Hal ini penting untuk dikemukakan, agar khalayak memahami bahwa tindakan aparat keamanan bukan dalam rangka memusuhi kelompok tertentu, atau agama tertentu, tetapi sebagai tindakan preventif yang tegas terhadap aksi kejahatan serta pelanggaran hukum yang dilakukan oleh oknum masyarakat yang diduga terkait jaringan teroris.

Model Kehidupan Masyarakat Basis


Masyarakat basis yang dimaksud ialah sebuah komunitas masyarakat yang memiliki kesamaan ideologi dan cita-cita perjuangan dengan kelompok teroris. Biasanya, bermula dari komunitas dengan ideologi radikal dan intoleran.

Atas dasar kesamaan tersebut, kelompok teroris memiliki keleluasaan untuk menjalankan berbagai macam rencana kejahatannya. Bukannya mendapatkan perlawanan dari masyarakat sekitar, kelompok teroris justru kerap dilindungi bahkan diposisikan sebagai pahlawan oleh masyarakat basis yang memiliki paham radikal tersebut.

Jika melihat kasus yang terjadi di negara lain seperti Pakistan dan Afghanistan, kelompok teroris seringkali menjadikan masyarakat basis sebagai tempat untuk bersembunyi. Di mana, pada kedua negara tersebut, diketahui banyak kelompok masyarakat yang mendukung serta melindungi kelompok-kelompok radikal seperti Taliban.

Namun demikian, dalam konteks nasional, pengalaman kelompok teroris bersembunyi dan bergerak di balik masyarakat basis masih sangatlah minim.

Oleh karena itu, kita bersama harus berupaya membendung berkembangnya paham radikal dan intoleran di tengah masyarakat agar kelompok teroris tidak bisa berlindung atau bersembunyi di balik masyarakat basis.

Kasus perlindungan kelompok teroris oleh masyarakat basis memang masih sangat sedikit bila dibandingkan dengan seluruh wilayah Nusantara yang pada hakikatnya akan menolak keberadaan kelompok teroris pada komunitasnya.

Hal ini menunjukkan bahwa masyarakat Nusantara tetap melestarikan kultur toleransi dan gotong-royong yang dimilikinya. Masyarakat diharapkan juga selalu proaktif dalam melaporkan hal-hal yang dianggap mencurigakan di lingkungan sekitarnya.

Langkah Strategis Penanggulangan dan Pencegahan Terorisme oleh Masyarakat


Supaya peran masyarakat dan lingkungan sosial dapat optimal dalam upaya penanggulangan dan pencegahan terorisme, setidaknya masyarakat perlu lebih mengetahui tentang kondisi lingkungannya, termasuk dalam mengenali pendatang baru ataupun perubahan yang mengarah pada radikalisme dari orang ataupun pihak tertentu.

Peran lingkungan sosial paling kecil di tingkat RT/RW menjadi ujung tombak aparat negara. RT/RW dapat berperan lebih optimal untuk mengontrol setiap aktivitas di lingkungan masyarakat.

Ancaman terorisme dapat dicegah secara dini apabila RT/RW dapat berpran lebih optimal. Masyarakat di lingkungan RT/RW harus lebih tanggap dalam mengenali tanda-tanda radikalisasi tertentu sehingga berbagai bentuk aksi terorisme dapat dicegah di kemudian hari.

Peran serta masyarakat dalam penanggulangan dan pencegahan terorisme memang memiliki kekuatan yang sangat hebat. Pemerintah, aparat keamanan, masyarakat, dan lingkungan sosial harus dapat bekerjasama dalam upaya menghadapi serta mencegah ancamana terorisme.

Jangan lewatkan:
Konsepsi Pencegahan dan Penanggulangan Terorisme di Indonesia

Dengan demikian, semoga tidak ada lagi orang-orang yang menjadi korban dari kekejian aksi terorisme. Mari, bersama kita menggalang persatuan untuk cegah terorisme demi mewujudkan Indonesia yang damai, beradab, adil, dan sejahtera.

Sumber:
nasional.sindonews.com


EmoticonEmoticon