Beragam Jenis Pelanggaran Lalu Lintas Beserta Ketentuan dan Denda Tilangnya


Yoadit.com - Meski sudah ditetapkan berbagai aturan guna membuat situasi lalu lintas tetap kondusif, namun tetap saja masih banyak pengguna jalan yang tidak mematuhi aturan-aturan tersebut.

Beragam Jenis Pelanggaran Lalu Lintas yang Sering Terjadi di Jalanan Beserta Ketentuan dan Denda Tilangnya
sumber: www.beritasatu.com
Padahal, pelanggaran lalu lintas yang dilakukan tidak hanya merugikan orang lain, tapi juga dapat membahayakan keselamatan jiwa pengendara maupun pengguna jalan yang lain.

Jenis Pelanggaran Lalu Lintas yang Sering Dilakukan Pengendara


Apa saja jenis pelanggaran lalu lintas yang sering terjadi? Dirangkum dari laman Koran Sindo, berikut jenis-jenis pelanggaran yang sering di lakukan oleh pengendara:

1. Menerobos Lampu Lalu Lintas


Lampu lalu lintas (traffic light) adalah salah satu komponen vital pengaturan lalu lintas. Tetapi pelanggaran terhadap lampu lalu lintas masih saja sering dilakukan oleh pengendara.

Entah karena terburu-buru, jalan sepi, atau tidak melihat lampu sudah berganti warna, ada saja hal yang menjadi alasan para pelanggar.

2. Mengendarai Motor Tidak Menggunakan Helm


Kewajiban pengendara sepeda motor untuk menggunakan helm berstandar Nasional Indonesia (SNI) sudah diatur dalam Undang-undang No 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan.

Bahkan, undang-undang tersebut sudah dengan jelas menyebutkan sanksi bagi pengendara sepeda motor yang tidak memakai helm, yaitu pidana kurungan paling lama 1 bulan atau denda paling banyak Rp 250 ribu.

Tetapi, faktanya masih banyak pengendara yang tidak mengindahkan aturan tersebut. Alasannya pun bisa beragam, mulai dari jarak tempuh yang dekat, hingga merasa tidak nyaman.

Baca juga: Tips Naik Sepeda Motor Bagi Wanita dan Ibu-ibu

3. Tidak Menyalakan Lampu Utama Kendaraan


Dalam Undang-undang No 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan, Pasal 107 menyatakan bahwa Pengemudi Kendaraan Bermotor wajib menyalakan lampu utama Kendaraan Bermotor yang digunakan di Jalan pada malam hari dan pada kondisi tertentu.

Kemudian pada ayat selanjutnya disebutkan Pengemudi Sepeda Motor selain mematuhi ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) wajib menyalakan lampu utama pada siang hari.

Untuk sepeda motor (khususnya matic) keluaran terbaru biasanya lampu utama akan menyala otomatis. Tetapi motor keluaran lama memang belum memiliki fitur ini, kadang kala masih saja ada pengendara yang lupa untuk menyalakan lampu utama motornya di siang hari.

4. Tidak Membawa SIM dan STNK


Pelanggaran lalu lintas berikutnya yang paling sering terjadi ialah tidak membawa SIM dan STNK saat berkendara.

Beberapa ada yang memang belum memiliki SIM (Surat Izin Mengemudi) karena belum cukup umurnya. Hal ini tentu saja dapat membahayakan keselamatan pengendara dan pengguna jalan lainnya.

STNK (Surat Tanda Nomor Kendaraan) juga perlu dibawa sebagai bukti bahwa kendaraan yang digunakan bukanlah hasil curian atau kendaraan ‘bodong’. Selain itu, di STNK juga ada bukti bahwa kendaraan selalu dibayarkan pajaknya di setiap tahun.

5. Melawan Arus (Contra Flow)


Melawan arus adalah pelanggaran lalu lintas yang dapat membahayakan keselamatan Anda dan pengguna jalan lainnya. Namun, pelanggaran ini ternyata masih saja sering terjadi.

6. Melanggar Rambu Lalu Lintas


Ternyata masih banyak pengendara yang tidak patuh terhadap rambu lalu lintas. Contohnya, parkir di sekitar area DILARANG PARKIR, berhenti di depan tanda larangan STOP, putar arah di tempat yang tidak semestinya, dan masih banyak lagi.

Padahal sesuai ketentuan dalam Pasal 287 ayat (1) UU No 22 Tahun 2009, jenis pelanggaran terhadap rambu lalu lintas dapat dikenai sanksi pidana kurunga paling lama 2 bulan atau denda paling banyak Rp 500 ribu.

7. Menerobos Jalur Busway


Kalau pelanggaran lalu lintas yang satu ini mungkin hanya ada di Jakarta. Tidak jarang pengendara nekat masuk ke jalur busway ketika tidak ada penjagaan dari petugas. Padahal, tindakan ini dapat membahayakan keselamatan pengendara. Sanksi yang diberikan pun tidak ringan lho.

8. Modifikasi Kendaraan yang Tidak Sesuai Standar Keamanan


Modifikasi kendaraan yang tidak sesuai standar ketentuan juga menjadi pelanggaran yang kerap terjadi.  Penggunaan kendaraan dengan muatan berlebih juga dapat membahayakan keselamatan, misalnya berboncengan sepeda motor lebih dari 2 orang, atau pengangkutan barang yang tidak sesuai dengan batas volume dan tonase kendaraan.

Selain itu, beberapa peristiwa kecelakaan juga disebabkan karena mobil yang seharusnya untuk mengangkut barang digunakan untuk mengangkut penumpang.

Jangan lewatkan: 7 Model Plat Nomor Kendaraan yang Akan Ditilang Polisi Karena Melanggar Ketentuan

9. Tidak Memasang Kaca Spion


Tidak menggunakan kaca spion juga menjadi pelanggaran lalu lintas yang sering terjadi. Padahal, fungsi kaca spion sangat penting bagi keselamatan berkendara, yaitu untuk memastikan bahwa kondisi saat itu kondusif untuk berbelok atau menyalip kendaraan.

Berdasarkan Undang Undang No 22 Tahun 2009, Pasal 285 ayat (1), pengendara yang tidak melengkapi kendaraannya kaca spion dapat dikenai denda tilang sebesar Rp 250 ribu.

10. Berkendara Melewati Trotoar


Trotoar merupakan fasilitas untuk pejalan kaki, pengendara sepeda motor dilarang untuk menyerobot hak pejalan kaki dengan berkendara di atas trotoar.

Ketentuan dan Denda Resmi Pelanggaran Lalu Lintas


Meski kita selalu berusaha disiplin dalam berlalu-lintas, namun ada kalanya sesekali kita lalai atau tidak sengaja melanggar aturan-aturan tersebut dan ditilang oleh polisi yang bertugas.

Di samping itu, kurangnya kesadaran masyarakat akan hukum yang berlaku juga menjadi indikasi mengapa masih banyak kasus pelanggaran lalu-lintas yang terjadi.

Padahal, berdasarkan Undang Undang No 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (LLAJ) terdapat sanksi yang semakin berat bagi pelanggar lalu lintas.

Berikut daftar denda tilang resmi bagi pengendara yang melakukan pelanggaran lalu lintas:

Tidak Punya SIM / Tidak Membawa SIM


Pasal 281 UU No 22 Tahun 2009 menyebutkan bahwa setiap pengemudi kendaraan bermotor yang tidak memiliki Surat Izin Mengemudi (SIM) dipidana dengan pidana kurungan paling lama 4 bulan atau denda paling banyak Rp 1 juta.

Selanjutnya, pasal 288 ayat 2 juga menyebutkan setiap pengendara kendaraan bermotor yang punya SIM tetapi tidak dapat menunjukkannya saat razia dipidana dengan pidana kurungan paling lama 1 bulan atau denda paling banyak Rp 250 ribu.

Tidak Dilengkapi TNKB (Plat Nomor Kendaraan)


Pasal 280 menyebutkan setiap pengendara kendaraan bermotor yang tidak dipasangi Tanda Nomor Kendaraan (plat nomor) dipidana dengan pidana kurungan paling lama 2 bulan atau denda paling banyak Rp 500 ribu.

Tidak Memenuhi Persyaratan Teknis dan Laik Jalan


Disebutkan dalam Pasal 285 ayat (1) UU No 22 Tahun 2009, Setiap pengendara sepeda motor yang tidak memenuhi persyaratan teknis dan laik jalan seperti spion, lampu utama, lampu rem, klakson, pengukur kecepatan, dan knalpot dipidana dengan kurungan paling lama 1 bulan atau denda paling banyak Rp 250 ribu.

Selanjutnya pada pasal 285 ayat 2 juga disebutkan bahwa setiap pengendara mobil yang tidak memenuhi persyaratan teknis seperti spion, klakson, lampu utama, lampu mundur, lampu rem, kaca depan, bumper, dan penghapus kaca (wiper) dipidana dengan kurungan paling lama 2 bulan atau denda paling banyak Rp 500 ribu.

Tidak Memiliki Perlengkapan dan Peralatan Standar


Dalam pasal 278 UU No 22 Tahun 2009, setiap pengendara mobil yang tidak dilengkapi dengan perlengkapan berupa ban cadangan, segitiga pengaman, dongkrak, pembuka roda, dan peralatan pertolongan pertama pada kecelakaan dipidana dengan kurunga paling lama 1 bulan atau denda paling banyak Rp 250 ribu.

Melanggar Rambu Lalu Lintas dan Batas Kecepatan


Pasal 287 ayat (1) menyebutkan bahwa setiap pengendara yang melanggar rambu lalu lintas dipidana dengan kurungan paling lama 2 bulan atau denda paling banyak Rp 500 ribu.

Selanjutnya pasal 287 ayat (2) juga menyebutkan bahwa setiap pengendara yang melanggar aturan batas kecepatan paling tinggi atau paling rendah dipidana dengan kurungan paling lama 2 bulan atau denda paling banyak Rp 500 ribu.

Tidak Memiliki atau Membawa STNK


Dalam pasal 288 ayat (1), setiap pengendara yang tidak dilengkapi Surat Tanda Nomor Kendaraan Bermotor atau Surat Tanda Coba Kendaraan Bermotor dipidana dengan kurungan paling lama 2 bulan atau denda paling banyak Rp 500 ribu.

Tidak Menggunakan Sabuk Keselamatan


Disebutkan dalam pasal 289, setiap pengemudi atau penumpang yang duduk disamping pengemudi mobil yang tidak mengenakan sabuk keselamatan dipidana dengan kurungan paling lama 1 bulan atau denda paling banyak Rp 250 ribu.

Tidak Mengenakan Helm SNI


Pasal 291 ayat (1) menyebutkan bagi setiap pengendara atau penumpang sepeda motor yang tidak mengenakan helm standar nasional dipidana dengan kurungan paling lama 1 bulan atau denda paling banyak Rp 250 ribu.

Tidak Menyalakan Lampu Utama


Dalam pasal 293 ayat (1) UU No 22 Tahun 2009 menyebutkan setiap orang yang mengemudikan Kendaraan Bermotor di Jalan tanpa menyalakan lampu utama pada malam hari dan kondisi tertentu dipidana dengan kurungan paling lama 1 bulan atau denda paling banyak Rp 250 ribu.

Selanjutnya pasal 293 ayat (2) menyebutkan setiap orang yang mengemudikan Sepeda Motor di Jalan tanpa menyalakan lampu utama pada siang hari dipidana kurungan paling lama 15 hari atau denda paling banyak Rp 100 ribu.

Berbelok Tanpa Memberi Isyarat Lampu


Pasal 294 menyebutkan bahwa setiap pengendara sepeda motor yang akan berbelok atau balik arah tanpa memberi isyarat lampu dipidana kurungan paling lama 1 bulan atau denda paling banyak Rp 250 ribu.

***
Itulah sejumlah pelanggaran dan denda tilang yang perlu diketahui oleh para pengendara. Biasanya, petugas polisi yang melakukan penindakan akan menerangkan dengan jelas kepada pelanggar apa kesalahan yang terjadi, pasal berapa yang telah dilanggar dan jumlah denda yang harus dibayar oleh pelanggar.

Pelanggar bisa memilih untuk menerima kesalahan dan memilih untuk menerima slip biru, lalu membayar denda di BRI sekitar tempat kejadian, dan mengambil dokumen (barang bukti) yang ditahan di Polsek atau Satlantas tempat kejadian.

Jika pelanggar menolak kesalahan yang didakwakan dan meminta sidang pengadilan, maka dapat meminta slip merah kepada petugas.

Persidangan akan dilakukan di Pengadilan Negeri setempat pada waktu yang telah ditentukan. Waktu tersebut biasanya antara 5 sampai 10 hari kerja dari tanggal terjadinya pelanggaran.

Kemudian pengadilan yang akan memutuskan apakah pelanggar bersalah atau tidak, serta menyebutkan berapa besarnya denda tilang yang harus dibayarkan oleh pelanggar.

Sebagian pelanggar mungkin ada yang beralasan bahwa mengurus tilang itu sulit dan ribet, sehingga melakukan penyuapan kepada petugas agar pelanggar bisa segera pergi dari lokasi pelanggaran tanpa mengikuti prosedur hukum yang ditetapkan.

Ketahuilah, penyuapan ini apabila terbukti maka dapat dikenai sanksi yang berat karena termasuk perbuatan melanggar hukum. Kedua pihak baik pelanggar maupun petugas akan dihukum penjara karena kasus suap-menyuap yang terjadi.

Nah, bagaimana dengan ketentuan-ketentuan lalu lintas di atas, apakah sudah cukup jelas? Ingatlah, selalu patuhi rambu lalu lintas. Biasakan untuk mengutamakan ketertiban dan keselamatan orang lain.

Tertib berlalu lintas tidak hanya menjadi cerminan kepribadian diri Anda sendiri, tapi juga menekan risiko terjadinya kecelakaan lalu lintas.

Lanjutkan membaca: Dasar Hukum Layanan Pengguna Jalan yang Harus Didahulukan (Voorijder)

Sumber:
poldasumbar.info
nasional.sindonews.com
www.hukumonline.com

Posting Komentar

Copyright © 2019 Yoadit.com